21.45 -
No comments
No comments
Menebarkan Cahaya Sunnah dengan Akhlaqul Karimah
Pembicara : Ustadz Ali Syubbana
“Akhalaq Rasululloh SAW adalah AlQur’an” Itulah ungkapan
dari Sahabat Anas Bin Malik ra. Yang menafsirkan QS. Al-Qolam : 4 “Dan
Sesungguhnya Kamu Benar – Benar berbudi pekerti yang agung.”
Teman – teman yang semoga diridhoi Alloh
SWT. Banyak diantara kita yang mempunyai niat yang begitu besar untuk menyebarkan
dakwah yang Haq nan Agung ini. Walaupun terkadang saat kita melihat kebathilan,
seringkali kita sulit untuk sekedar Menegur, apalagi sampai memperingatkannya.
Tapi, adapula diantara kita, orang yang jiwanya menggebu –
gebu untuk menghilangkan kebathilan, bahkan tak ragu untuk memperingatkannya.
Padahal yang diperingatkannya bukanlah orang yang dikenal,
melainkan orang yang masih sangat baru. Sehingga, dengan cara itu orang lain
menjadi illfeel terhadapnya.
Lalu, bagaimana cara agar Dakwah kita
dapat diterima dilingkungan Masyarakat? Khususnya di Indonesia ini?
Baiklah, sebelum kita membahas lebih jauh tentang
Point – pointnya, kita terlebih dahulu membahas tentang Hak – hak AlQur’an
sebagai pedoman hidup Kita.
- AlQur’an dibaca sesuai
dengan kaidah Tajwid dan Makhrojnya.
- Memahami artinya. Baik
secara harfiah. Ataupun secara maknawi (tafsirnya)
- Menghafal AlQur’an.
- Dimalkan
- Mengajarkan.
Selanjutnya, bagaimana agar kelima hak tersebut
dicapai? Belajarlah kepada guru yang telah jelas Sanadnya dalam bacaan AlQur’an
sehingga sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasululloh SAW.
Ketika kita telah bisa, (Setidaknya membaca AlQur’an
dengan baik dan Benar dan Mempunyai cukup Banyak Hafalan). Maka secara tidak
langsung orang pun akan Respect
terhadap kita. Setelah itu barulah kita mulai Point – point agar bisa diterima
dilingkungan masyarakat. Berikut ini
adalah Point – Point agar dakwah kita menjadi Efektif :
- Tersenyum. Sesuai dengan
hadits Rasululloh SAW :
“Tersenyum
ketika bertemu saudaramu adlah Ibadah.” (HR. Trimidzi, Ibnu Hibban dan
Baihaqi).
Mengapa
harus “Tersenyum”? karena dengan tersenyum akan membukakan kelapangan hati bagi
orang lain dan merupakan tanda keramahan awal kepada orang yang belum kita
kenal. Maka dari itu “TERSENYUMLAH”.
- Mengucapkan Salam.
Sesuai dengan hadits Rasululloh SAW :
Rasululloh
SAW Bersabda : Ada 5 kewajiban bagi seorang muslim terhadap saudaranya yang
muslim, Menjawab Salam; Mendoakan orang yang bersin; Memenuhi Undangan;
Menjenguk orang Sakit dan Mengiringi Jenazah (HR. Muslim No.4022).
Setelah kita tersenyum kepada saudara sesama muslim,
hendaklah kita ucapkan salam kepadanya, sehingga rasa persaudaraan pun akan
meningkat. Karena dengan salam maka kita telah mendoakan Saudara kita. Lalu
bagaimana dengan Orang Non Muslim?. Kita Dilarang untuk memulainya, tapi
hendaklah kita menjawabnya jika ia memulai dahulu. Selama kata – kata Salam
yang muncul dari mulutnya adalah sesuai yang diContohkan Rasululloh SAW, yaitu
“Assalamu’alaykum Warahmatullohi Wabarokatuh”. Sesuai dengan Hadits yang
diriwayatkan oleh Anas Bin Malik ra:
“Rasululloh
SAW Bersabda : Apabila Ahli kitab mengucapkan salam kepadamu, maka Jawablah
“Wa’alaykum” (HR. Muslim No.4042).
- Husnudzon Atau Berbaik
Sangka.
Dengan
berbaik sangka kepada orang lain, maka hal ini akan menimbulkan sikap baik dari
dalam diri kita terhadap orang lain. Karena perbuatan kita dimulai dari apa
yang kita dalam fikiran kita Contohnya :
Kita
sudah tahu bahwasanya tidak Ada sholat Sunnah setelah Sholat Ashar, Kemudian
ada orang disamping kita yang tidak dikenal Melakukan hal itu. Lalu Bagaimana
cara menegurnya?
Yang
pertama kita lakukan adalah Berhusnudzon (mungkin ia tidak tahu atau mungkin
pula ia melakukan sholat Sunnah lain, seperti sholat Istikhoroh). Selanjutnya,
Tersenyum dan Ucapkanlah salam kepada saat ia selesai melakukan itu. Kemudian
tanyakan apa yang ia lakukan dan apa alasannya. Jika, karena ia tidak tahu,
jangan menyinggung secara langsung, tapi bawalah kepihak ketiga yang lebih
netral, misalnya Imam Masjid. Selanjutnya, tanyalah keimam Masjid, apakah ada
sholat sunnah Ba’da Ashar? Lalu, biarkan Imam tersebut yang menjawabnya.
- Menyayangi
Menyayangi
atau Mencintai sesame Muslim adalah bagian dari Keimanan Seseorang. Sesuai
dengan Hadits Rasululloh SAW :
“Anas
Bin Malik ra berkata bahwa Nabi SAW Bersabda : Tidaklah termasuk beriman
seseorang diantara kamu sehingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai
dirinya Sendiri.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Nasa’i).
Lalu
dimana letak aplikasinya dalam Bermasyarakat ? Adalah dengan cara kita selalu
beramah tamah terhadap tetangga kita, berbaik – baik kepada warga masyarakat,
ikut bergotong – royong saat ada kegiatan masyarakat selama itu tidak
bertentangan dengan AlQur’an dan Assunnah. Dari hal, ini akan terus
meningkatkan kepercayaan masyarakat sekitar kepada kita, sehingga semakin kita
dapat banyak memberikan pengaruh yang besar kepada Masyarakat luas.
- Berjabat Tangan
Dengan
berjabatan tangan maka lengkaplah rasa Persaudaraan umat Muslim ini, karena
dengan ini maka Mereka akan saling mengenal satu sama lain lebih dalam, selain
itu dengan berjabatan dengan sesama muslim maka berguguranlah dosa – dosanya.
Sesuai dengan Hadits Rasululloh SAW.
“Dari Al-Barr’a ra ia berkata bahwa Rasululloh SAW Bersabda : [Apabila ada] dua orang Muslim yang bertemu kemudian mereka berjabat tangan, maka dosa kedua orang tersebut akan diampuni sebelum keduanya berpisah (Melepaskan tangan mereka). (HR. Abu Daud).
“Dari Al-Barr’a ra ia berkata bahwa Rasululloh SAW Bersabda : [Apabila ada] dua orang Muslim yang bertemu kemudian mereka berjabat tangan, maka dosa kedua orang tersebut akan diampuni sebelum keduanya berpisah (Melepaskan tangan mereka). (HR. Abu Daud).
Maka
dari itulah, dengan semua hal yang sudah tertulis diatas ditambah dengan
Berjabatan tangan maka sempurnalah rasa Sosial kita kepada masyarakat dan
membuat masyarakat menjadi percaya terhadap kita. Sehingga, dengan kepercayaan
yang penuh, kita dapat mendakwahkan diri kita lebih efektif. Apa yang menjadi
pembicaraan kita lebih didengar dimasyarakat karena kita telah menjadi orang
yang dapat dipercaya.
Namun,
perlu diingat, untuk berjabatan tangan, sangat Dilarang kepada Lawan Jenis
kita.
Wallohua’lamu
Bishshowab. Yang benar datangnya dari Alloh SWT dan yang salah adalah dari Saya
selaku Makhluknya yang Penuh Salah dan Lupa.
Habibulloh Ibnu Khoiruddin

0 komentar:
Posting Komentar