Selasa, 08 Mei 2012

21.45 - No comments

Menebarkan Cahaya Sunnah dengan Akhlaqul Karimah


Pembicara : Ustadz Ali Syubbana

“Akhalaq Rasululloh SAW adalah AlQur’an” Itulah ungkapan dari Sahabat Anas Bin Malik ra. Yang menafsirkan QS. Al-Qolam : 4 “Dan Sesungguhnya Kamu Benar – Benar berbudi pekerti yang agung.”


Teman – teman yang semoga diridhoi Alloh SWT. Banyak diantara kita yang mempunyai niat yang begitu besar untuk menyebarkan dakwah yang Haq nan Agung ini. Walaupun terkadang saat kita melihat kebathilan, seringkali kita sulit untuk sekedar Menegur,  apalagi sampai memperingatkannya.
Tapi, adapula diantara  kita, orang yang jiwanya menggebu – gebu untuk menghilangkan kebathilan, bahkan tak ragu untuk memperingatkannya. Padahal  yang  diperingatkannya bukanlah orang yang dikenal, melainkan orang yang masih sangat baru. Sehingga, dengan cara itu orang lain menjadi illfeel terhadapnya.
Lalu, bagaimana cara agar Dakwah kita dapat diterima dilingkungan Masyarakat? Khususnya di Indonesia ini?
Baiklah, sebelum kita membahas lebih jauh tentang Point – pointnya, kita terlebih dahulu membahas tentang Hak – hak AlQur’an sebagai pedoman hidup Kita.
  1. AlQur’an dibaca sesuai dengan kaidah Tajwid dan Makhrojnya.
  2. Memahami artinya. Baik secara harfiah. Ataupun secara maknawi (tafsirnya)
  3. Menghafal AlQur’an.
  4. Dimalkan
  5. Mengajarkan.
Selanjutnya, bagaimana agar kelima hak tersebut dicapai? Belajarlah kepada guru yang telah jelas Sanadnya dalam bacaan AlQur’an sehingga sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasululloh SAW.

Ketika kita telah bisa, (Setidaknya membaca AlQur’an dengan baik dan Benar dan Mempunyai cukup Banyak Hafalan). Maka secara tidak langsung orang pun akan Respect terhadap kita. Setelah itu barulah kita mulai Point – point agar bisa diterima dilingkungan masyarakat.  Berikut ini adalah Point – Point agar dakwah kita menjadi Efektif :
  1. Tersenyum. Sesuai dengan hadits Rasululloh SAW :
“Tersenyum ketika bertemu saudaramu adlah Ibadah.” (HR. Trimidzi, Ibnu Hibban dan Baihaqi).
Mengapa harus “Tersenyum”? karena dengan tersenyum akan membukakan kelapangan hati bagi orang lain dan merupakan tanda keramahan awal kepada orang yang belum kita kenal. Maka dari itu “TERSENYUMLAH”.

  1. Mengucapkan Salam. Sesuai dengan hadits Rasululloh SAW :
Rasululloh SAW Bersabda : Ada 5 kewajiban bagi seorang muslim terhadap saudaranya yang muslim, Menjawab Salam; Mendoakan orang yang bersin; Memenuhi Undangan; Menjenguk orang Sakit dan Mengiringi Jenazah (HR. Muslim No.4022).
Setelah kita tersenyum kepada saudara sesama muslim, hendaklah kita ucapkan salam kepadanya, sehingga rasa persaudaraan pun akan meningkat. Karena dengan salam maka kita telah mendoakan Saudara kita. Lalu bagaimana dengan Orang Non Muslim?. Kita Dilarang untuk memulainya, tapi hendaklah kita menjawabnya jika ia memulai dahulu. Selama kata – kata Salam yang muncul dari mulutnya adalah sesuai yang diContohkan Rasululloh SAW, yaitu “Assalamu’alaykum Warahmatullohi Wabarokatuh”. Sesuai dengan Hadits yang diriwayatkan oleh Anas Bin Malik ra:
“Rasululloh SAW Bersabda : Apabila Ahli kitab mengucapkan salam kepadamu, maka Jawablah “Wa’alaykum” (HR. Muslim No.4042).

  1. Husnudzon Atau Berbaik Sangka.
Dengan berbaik sangka kepada orang lain, maka hal ini akan menimbulkan sikap baik dari dalam diri kita terhadap orang lain. Karena perbuatan kita dimulai dari apa yang kita dalam fikiran kita Contohnya :
Kita sudah tahu bahwasanya tidak Ada sholat Sunnah setelah Sholat Ashar, Kemudian ada orang disamping kita yang tidak dikenal Melakukan hal itu. Lalu Bagaimana cara menegurnya?
Yang pertama kita lakukan adalah Berhusnudzon (mungkin ia tidak tahu atau mungkin pula ia melakukan sholat Sunnah lain, seperti sholat Istikhoroh). Selanjutnya, Tersenyum dan Ucapkanlah salam kepada saat ia selesai melakukan itu. Kemudian tanyakan apa yang ia lakukan dan apa alasannya. Jika, karena ia tidak tahu, jangan menyinggung secara langsung, tapi bawalah kepihak ketiga yang lebih netral, misalnya Imam Masjid. Selanjutnya, tanyalah keimam Masjid, apakah ada sholat sunnah Ba’da Ashar? Lalu, biarkan Imam tersebut yang menjawabnya.

  1. Menyayangi
Menyayangi atau Mencintai sesame Muslim adalah bagian dari Keimanan Seseorang. Sesuai dengan Hadits Rasululloh SAW :
“Anas Bin Malik ra berkata bahwa Nabi SAW Bersabda : Tidaklah termasuk beriman seseorang diantara kamu sehingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya Sendiri.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Nasa’i).
Lalu dimana letak aplikasinya dalam Bermasyarakat ? Adalah dengan cara kita selalu beramah tamah terhadap tetangga kita, berbaik – baik kepada warga masyarakat, ikut bergotong – royong saat ada kegiatan masyarakat selama itu tidak bertentangan dengan AlQur’an dan Assunnah. Dari hal, ini akan terus meningkatkan kepercayaan masyarakat sekitar kepada kita, sehingga semakin kita dapat banyak memberikan pengaruh yang besar kepada Masyarakat luas.

  1. Berjabat Tangan
Dengan berjabatan tangan maka lengkaplah rasa Persaudaraan umat Muslim ini, karena dengan ini maka Mereka akan saling mengenal satu sama lain lebih dalam, selain itu dengan berjabatan dengan sesama muslim maka berguguranlah dosa – dosanya. Sesuai dengan Hadits Rasululloh SAW.
“Dari Al-Barr’a ra ia berkata bahwa Rasululloh SAW Bersabda : [Apabila ada] dua orang Muslim yang bertemu kemudian mereka berjabat tangan, maka dosa kedua orang tersebut akan diampuni sebelum keduanya berpisah (Melepaskan tangan mereka). (HR. Abu Daud).
Maka dari itulah, dengan semua hal yang sudah tertulis diatas ditambah dengan Berjabatan tangan maka sempurnalah rasa Sosial kita kepada masyarakat dan membuat masyarakat menjadi percaya terhadap kita. Sehingga, dengan kepercayaan yang penuh, kita dapat mendakwahkan diri kita lebih efektif. Apa yang menjadi pembicaraan kita lebih didengar dimasyarakat karena kita telah menjadi orang yang dapat dipercaya.
Namun, perlu diingat, untuk berjabatan tangan, sangat Dilarang kepada Lawan Jenis kita.

Wallohua’lamu Bishshowab. Yang benar datangnya dari Alloh SWT dan yang salah adalah dari Saya selaku Makhluknya yang Penuh Salah dan Lupa.


Habibulloh Ibnu Khoiruddin

0 komentar:

Posting Komentar