Minggu, 01 Januari 2012

07.23 - No comments

"Si Pohon Apel"

Dahulu, terdapalah sebatang pohon apel yang amat besar. Seorang anak lelaki begitu gemar bermain-main di sekitar pohon apel ini setiap hari. Ia memanjat, memetik serta memakan apel sepuas hati dan adakalanya ia beristirahat lalu terlelap di perdu pohon apel tersebut. Ia begitu menyayangi tempat bermainnya. Begitu pula dengan pohon apel.



Waktu berlalu. . .
anak lelaki itu beranjak dewasa dan menjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskan waktunya setiap hari bermain di sekitar pohon apel tersebut. Namun, suatu hari ia datang kepada pohon apel itu dengan wajah yang sedih. "Marilah bermain-mainlah di sekitarku," ajak pohon apel." Aku bukan lagi anak-anak, aku tidak lagi gemar bermain dengan dirimu," jawab sang remaja." Aku ingin Mainan. Aku perlu uang untuk membelinya," tambahnya dengan nada yang sedih.
Lalu pohon apel berkata, " Kalau begitu, petiklah apel-apel yang ada padaku. Juallah untuk mendapatkan uang. Dengan itu, kau dapat membeli permainan yang kau inginkan."
Remaja itu dengan gembiranya memetik semua apel dan pergi dari situ. Namun, ia tidak kembali lagi. Pohon apel itu pun merasa sedih.

Waktu terus berjalan. . .
Suatu hari, remaja itu kembali. Dia telah dewasa. Pohon apel itu merasa gembira."Marilah bermain-main di sekitarku," ajak pohon apel."Aku tak ada waktu untuk bermain. Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin membina rumah sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Sudikah kau menolongku?" Tanya anak itu." Maafkan aku. Aku tidak mempunyai rumah. Tetapi kau boleh memotong dahan-dahanku yang besar ini dan kau buatlah rumah darinya." Pohon apel memberikan cabangnya. Lalu, remaja yang semakin dewasa itu memotong semua dahan pohon apel dan pergi dengan gembiranya. Pohon apel pun turut gembira, tetapi kemudian merasa sedih karena remaja itu tidak kembali lagi.

Suatu hari yang panas, . .
seorang lelaki datang menemui pohon apel itu. Dia sebenarnya adalah anak lelaki yang pernah bermain-main dengan pohon apel itu. Dia telah matang dan dewasa."Marilah bermain-main di sekitarku," ajak pohon apel." Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yang suka bermain-main di sekitarmu. Aku sudah dewasa. Aku mempunyai cita-cita untuk belayar. Malangnya, aku tidak mempunyai Perahu. Maukah kau menolongku?" tanya lelaki itu." Aku tidak mempunyai Perahu untuk kuberikan padamu. Tetapi kau boleh memotong batang pohon ini. Kau bisa belayar dengan gembira," kata pohon apel. Lelaki itu merasa sangat gembira dan kemudian menebang batang pohonnya. Lalu ia pergi dengan gembira dan lagi - lagi ia tak kembali.

Namun, pada suatu hari, seorang lelaki yang semakin dimamah usia, datang menuju pohon apel. Dia adalah anak lelaki yang pernah bermain di sekitar pohon apel itu." Maafkan aku. Aku tidak ada apa-apa lagi untuk diberikan kepadamu. Aku sudah memberikan buahku untuk kau jual, dahanku untuk kau buat rumah, batangku untuk kau buat perahu. Aku hanya ada tunggul dengan akar yang hampir mati..." kata pohon apel dengan nada pilu."
Aku tidak mau apelmu kerana aku sudah tiada bergigi untuk memakannya, aku tidak ingin dahanmu kerana aku sudah tua untuk memotongnya, tidak pula dengan batang pohonmu kerana aku sudah tidak mampu untuk belayar lagi, aku merasa lelah dan ingin istirahat," jawab lelaki tua itu." Kalau begitu, istirahatlah di perduku," kata pohon apel. Lalu lelaki tua itu duduk beristirahat di perdu pohon apel. Mereka berdua menangis haru.


INSIDE :
Sebenarnya, pohon apel yang dimaksudkan didalam cerita itu adalah Orang Tua kita. Saat kita masih kanak - kanak, kita suka bermain dengan mereka. Ketika kita meningkat remaja, kita butuh bantuan mereka untuk melanjutkan hidup. Kita tinggalkan mereka,dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita didalam kesusahan. Namun begitu, mereka tetap menolong kita dan melakukan apa saja asalkan kita bahagia dan gembira dalam hidup. Kita mungkin berfikir bahwa anak lelaki itu bersikap kejam terhadap pohon apel, tetapi hakikatnya begitulah orang tua kita, mereka selalu ada saat kita membutuhkannya. Untuk itu, marilah kita membuat bahagia mereka dengan segenap usaha kita.

Ya Allah, rendahkanlah suaraku bagi mereka,
Perindahlah ucapanku di depan mereka.
Lunakkanlah watakku terhadap mereka dan
Lembutkanlah hatiku untuk mereka.


Ya Allah, berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya
atas didikan mereka padaku dan Pahala yang besar
atas kesayangan yang Mereka limpahkan padaku,
Peliharalah mereka Sebagaimana mereka memeliharaku.

Amiin




Habibulloh Ibnu Khoiruddin

0 komentar:

Posting Komentar